Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

Tiga Provinsi Rasakan Gempa Aceh

TUESDAY, 06 SEPTEMBER 2011 17:10

BANDA ACEH - Gempa bumi berkekuatan 6,7 pada Skala Richter yang berpusat di Kabupaten Aceh Selatan, Selasa dini hari, dirasakan di sembilan wilayah pada tiga provinsi di Indonesia.

Staf operasional BMKG Stasiun Geologi Mata Ie di Aceh Besar, Fany menyebutkan kesembilan wilayah itu ada di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Mereka merasakan getaran gempa yang berpusat di daratan Kabupaten Aceh Selatan, sekitar pukul 00.55.12 WIB.

“Pusat gempa tersebut persisnya berada di darat. Meski hingga kini belum terdeteksi adanya gempa susulan, namun kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” katanya hari ini.

Sejauh ini, gempa bumi ini merusakkan rumah penduduk, sejumlah fasilitas publik seperti sekolah dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat serta menelan korban jiwa seorang anak meninggal dunia serta beberapa warga lain terluka di Aceh Singkil.

Sumber Waspada.co.id

Gempa Singkil Telan Dua Korban Jiwa

TUESDAY, 06 SEPTEMBER 2011 15:08

(WOL Photo)
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,7 skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Pantai Barat Selatan Provinsi Aceh, pada Selasa pukul 00:55:12 WIB telah menelan dua korban jiwa.

“Berdasarkan data sementara yang diterima diketahui bahwa dua orang meninggal dunia dan satu orang luka ringan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta tadi siang.

Ia menambahkan, berdasarkan data sementara tersebut juga diketahui bahwa satu tempat ibadah rusak berat, tiga rumah rusak berat, 15 rumah rusak ringan dan satu unit gedung akbid rusak berat. “Selain itu 160 toko mengalami kebakaran karena korsluit arus pendek,” katanya.

Dia juga mengatakan hingga saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih terus berkoordinasi dan melakukan pendataan. “Hingga saat BNPB masih melakukan koordinasi dengan BPBD Aceh dan BPBD Sumatera Utara serta dinas lainnya untuk melakukan pendataan,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus memberikan informasi mengenai perkembangan dampak gempa. Kepala BMKG Meulaboh Kabupaten Nagan Raya, Edi Darlupti menyebutkan, gempa terletak pada lokasi 2,81 lintang utara (LU) 97,85 bujur timur (BT) atau 59 kilometer timur laut Singkil Baru Provinsi Aceh, di kedalaman 78 kilometer. Dia juga menjelaskan, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami.

Sumber Waspada.co.id

Kamis, 08 September 2011

Aceh Singkil Digoyang Gempa

Rabu, 7 September 2011 04:45 WIB

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR), 59 KM Timur Laut Singkil Baru, Selasa (6/9/2011) pukul 00:52 WIB dini hari, sejauh ini tidak menimbulkan kerusakan. Kecuali kepanikan warga, listrik padam, serta komunikasi sempat terganggu beberapa saat.

Camat Singkil Utara Denny Oskandar, yang wilayahnya berada di pusat gempa mengatakan, tidak ada kerusakan maupun korban jiwa. "Sejauh ini aman belum ada laporan kerusakan. Untuk korban jiwa dipastikan tidak ada," katanya. Begitu juga dengan Kecamatan Pulau Banyak, Pulau Banyak Barat dan Kuala Baru, yang berada di tengah laut, tidak ada laporan kerusakan akibat gempa.

"Belum ada laporan kerusakan, tadi malam kami langsung ke dermaga mengecek tidak ada tanda-tanda akan tsunami. Namun karena masih gelap, pagi ini kami akan melakukan lagi pemantau," jelas M Hasbi Camat Pulau Banyak Barat.

Hal yang sama disampaikan Sekda Aceh Singkil HM Yakub KS. Ia mengatakan, sejak kejadian gempa pihaknya langsung siaga dan melakukan pemantauan. Hingga pagi tadi tidak ada laporan kerusakan dan korban. "Listrik saja yang mati sampai pagi, dan warga sesuai arahan karena lokasi gempa di daerah kita sebagian ada yang mengamankan diri ke Gunung Meriah. Saya himbau agar berhati-hati tetap tenang, jangan sampai terjadi musibah justru akibat kelalian," kata HM Yakub.

Sumber Serambinews.com

Jumat, 24 Juni 2011

Wilayah Singkil Tergenang

Sat, Apr 30th 2011, 13:25

Laporan wartawan Serambinews.com, dede rosadi - Aceh Singkil


BERMAIN - Sejumlah anak di Lae Ijuk, Gunung Meriah, Aceh Singkil, Sabtu (30/4) bermain di halaman rumahnya yang tergenang banjir luapan sungai. Serambinews.com/dede rosadi

SINGKIL - Sampai Sabtu (30/4) hari ini, sebagian wilayah Kabupaten Aceh Singkil, masih tergenang banjir. Sungai besar Singkil meluap pasca hujan lebat yang mengguyur wilayah itu sejak kemarin.

Pantauan Serambinews.com, pemukiman penduduk dan perkebunan kelapa sawit di kawasan Lae Ijuk, Kecamatan Gunung Meriah, tergenang. Di daerah ini air sudah menyentuh lantai. Kemudian jalan menuju Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, Singkil sudah tergenang. Kawasan itu menjadi mudah tergenang air karena jebolnya tanggul pengaman banjir.

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 05 Juni 2011

Banjir di Singkil Surut

Sat, Apr 2nd 2011, 15:55

SINGKIL - Banjir yang melanda puluhan desa di Kecamatan Suro, Simpang Kanan, Gunung Meriah, Singkil Utara dan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Sabtu (2/4/2011) mulai surut. Kecuali di Kecamatan Singkil, genangan air masih terdapat di sujumlah titik, namun tidak mengganggu aktivitas warga.
Sejumlah warga, khususnya kaum perempun sejak pagi membersihkan rumah dan mencuci perabotan yang dalam tiga hari belakangan terendam banjir. Volume air sungai besar yang bermuara ke laut Singkil, yaitu Sungai Lae Cinendang dan Soraya jauh berkurang.
Hujan yang menjadi penyebab utama banjir sejak pagi kemarin tidak lagi turun, hanya sesekali turun itupun dalam intensitas kecil."Banjir sudah surut walaupun terasa sangat pelan. Tapi tetap harus siaga karena dua hari nanti masuk musim pasang gembung, biasanya menimbulkan banjir juga," kata Iwan (24) warga Desa Pasar, Singkil, kepada Serambinews.com.(dede rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 27 Mei 2011

Banjir Singkil Diperparah Air Pasang

Thu, Mar 31st 2011, 20:35
Banjir Singkil Diperparah Air Pasang

SINGKIL - Banjir yang melanda Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, diperparah air pasang pada malam hari. Sementara untuk daerah lainnya ketinggian air mulai surut, setelah hujan tidak lagi turun sejak, Kamis (31/3/2011) siang.
Khusus untuk Kecamatan Singkil, banjir malam ini semakin tinggi lantaran tumpahan air dari sejumlah sungai yang bermuara ke daerah ini mulai datang. Selain itu, banjir rob yang disebabkan masuknya akhir bulan purnama menambah ketinggian rendaman.
"Hampir semua pada malam sejak lewat magrib tadi terendam karena pengaruh pasang. Di Desa Pasar Singkil, sudah sampai selututn sedangkan desa di pinggir sungai mencapai sedada," kata Azwar warga Singkil kepada Serambinews.com.(dede rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 26 Mei 2011

Banjir di Singkil Meluas

Wed, Mar 30th 2011, 18:31

SINGKIL - Banjir yang melanda Aceh Singkil, Rabu (30/3/2011) petang, meluas. Hampir semua wilayah langganan banjir, seperti Kecamatan Suro, Simpang Kanan, Gunung Meriah, Singkil Utara, dan Singkil yang desanya dilewati sungai, tergenang banjir.
Hal itu dipicu datangnya banjir kiriman dari sungai di Subulussalam, Aceh Tenggara, dan Pakpak Barat yang bermuara ke laut Singkil. Bahkan perkantoran pemerintah, BPMD dan Inspektorat di Pulau Sarok turut tergenang hingga ke lantai. "Untuk dua kantor tersebut akibat salauran drainase tidak berfungsi," kata Suhardi pegawai Inspektorat.
Sementara kondisi cuaca mendung setelah sepanjang Rabu terus diguyur hujan.(dede rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Banjir Rendam Aceh Singkil

Wed, Mar 30th 2011, 13:57


TERENDAM - Banjir merendam rumah warga, Solok, Kecamatan Gunung Meriah, Singkil., menyusul hujan deras dengan ketinggian sepinggang orang dewasa. Banjir juga merendam sejumlah wilayah lainnya di Aceh Singkil, sejak Rabu (30/3) dini hari.Serambinews.com/dede rosadi

SINGKIL - Ratusan rumah warga wilayah di Kabupaten Aceh Singkil, sejak Rabu (30/3) dini hari direndam banjir. Curah hujan yang tinggi dalamtiga hari ini menyebabkan air sungai Singkil, melupas.

Pantauan Serambinews.com, Rabu, kawasan terparah yang terendamair antara lain Handel dan Solok Kecamatan Gunung Meriah, Rantau Gedang, dan Teluk Rumbia. Air sudah mencapai sepinggang orang dewasa. Bahkan luapan air sudah memasuki pemukiman dan rumah-rumah penduduk, sehingga sejak semalam warga ada yang sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. (dede rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 04 Mei 2011

Gelombang Pasang Landa Laut Singkil

Tue, Mar 22nd 2011, 08:49

SINGKIL - Selama pekan ketiga Marat ini, gelombang pasang atau dalam bahasa setempat disebut geloro melanda wilayah perairan Aceh Singkil. Di beberapa lokasi air laut juga naik ke darat, pengaruh pasang purnama. Akibatnya nelayan tidak bisa melaut, lantaran perahu mereka tidak sanggup menahan ombak di atas satu meter.

Irwan nelayan Pulau Banyak, pada Serambi, Senin (21/3) menyebutkan, aktivitas melaut dalam beberapa hari ini tidak bisa dilakukan karena besarnya ombak. Nelayan lebih memilih tinggal di rumah. “Laut lagi musim geloro sehingga, tidak bisa mencari ikan. Air pasang sudah naik, tapi belum terlalu besar, mungkin dalam dua tiga hari ke depan akan besar,” kata Irwan.

Kecuali itu, besarnya ombak sejauh ini, tidak mengganggu rute pelayaran yang dilayani angkutan sungai danau dan penyebrangan (ASDP) Cabang Sinabang, yang berkantor di Pelabuhan Ferry Singkil. Damin Moningka Plh Manejer ASDP Cabang Sinabang mengatakan, ombak masih diambang normal, sehingga tidak berpengaruh pada operasional kapal. Jadwal pelayaran yang dilayani pihaknya juga tidak ada yang terlambat. “Berdasarkan informasi dari BMKG ombak masih diambang normal, tidak terpengaruh pada operasional kapal,” kata Damin.

Damin menyebutkan, ombak besar terjadi di perairan Pantai Timur. Sementara perairan Pantai Barat yang dilayani ASDP Cabang Sinabang normal paling tinggi satu meter dan itu tidak mengganggu pelayaran ferry. ASDP Cabang Sinabang melayani pelayaran pulang pergi (PP), Sinbang-Singkil, Singkil-Pulau Banyak, Singkil-Gunung Sitoli dan Sinabang-Labuhan Haji.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 28 Maret 2011

Distan Akan Kirim Pompa Air

Puluhan Hektare Sawah Kering
Thu, Feb 17th 2011, 08:58

SINGKIL - Dinas Pertanian akan mengirim mesin pompa air berkapasitas 25 hektar untuk memenuhi air puluhan hektar sawah yang kering di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Aceh Singkil, H Asmauddin, melalui Kepala Bidang Produksi, Kuatno, pada Serambi, Rabu (16/2) mengatakan, pompa penyedot air untuk mengatasi kekeringan yang bersifat sementara, sudah ada tersedia. Tinggal prosedur administrasinya berupa permintaan dari masyarakat serta petugas penyuluh lapangan (PPL). “Kita akan kirim pompa air. Tolong kepada PPL dan petani agar melengkapi administrasinya berupa surat permintaan bantuan penggunaan pompa air,” kata Kuatno.

Sedangkan pengairan untuk jangka panjang, akan dibangun sebuah embung yang berfungsi sebagai irigasi. Pembangunanya akan dilaksanakan pada tahun ini dengan sumber dana otsus. Terkait permintaan agar pembukaan lahan telantar menjadi sawah di daerah itu masuk dalam program optimasi, Kuatno menyebutkan sebagian memang sudah masuk.

Sementara itu sejumlah kalangan mensinyalir puluhan hektar areal persawahan di Pulau Banyak Barat, terancam kekeringan, karena tidak cepat tanggapnya petugas PPL di daerah itu. Sehingga kejadian kekeringan baru diketahui Dinas Pertanian, setelah mencuat di media massa. Sebagaimana diberitakan Serambi sebelumnya, sekitar 60 hektar sawah di kecamatan yang baru dimekarkan tersebut terancam kekeringan. Hal itu disebabkan irigasi sebagai sumber pengairan belum ada, praktis sawah yang baru dibuka sebagai mata pencarian lain bagi ribuan nelayan di daerah itu, hanya mengandalkan tadah hujan.

Anhar Ketua Kelompok Tani Harapan Baru, Desa Asan Tola, Pulau Banyak Barat, mengatakan, hampir 95 persen warga yang tadinya nelayan beralih bersawah. Jika sawah tersebut tidak berhasil maka, semangat bertani masyarakat yang kini sedang membara dipastikan luntur. “Saya takut kalau sempat gagal, patani pada awal ini bisa memudar semangatnya,” kata Anhar.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Puluhan Hektare Sawah di Singkil Terancam Kering

Wed, Feb 16th 2011, 08:42

SINGKIL - Karena tak ada irigasi, sekitar 60 hektare areal sawah di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil, terancam kekeringan. Sehingga sawah yang baru dibuka sebagai mata pencaharian lain bagi ribuan nelayan yang beralih usaha menjadi petani belum bisa diolah.

Anhar, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru, Desa Asan Tola, Pulau Banyak Barat, pada Serambi, Selasa (15/2) mengatakan, hampir 95 persen warga yang sebelumnya nelayan beralih menjadi petani. Luas areal lahan terlantar yang telah dibuka dijadikan sawah sekitar 60 hektare. Namun, permasalahan yang dihadapi lantaran belum ada irigasi. “Selama ini hanya mengandalkan air hujan, giliran tidak turun maka sawah kering kerontang,” katanya.

Anggota DPRK Aceh Singkil, asal Pulau Banyak Barat, Tufik, sebelumnya menyatakan, padi yang baru ditanam warga sekitar sebulan lalu itu kini sedang menguning, sebagian mati. Bahkan beberapa areal persawahan retak-retak, akibat tak tersiram air. Disebutkan, semangat warga untuk bersawah sangat tinggi.

Taufik berharap, Dinas Pertanian Aceh Singkil dan instansi terkait lainnya dapat mengambil kebijakan agar sawah warga dapat diari. Kemudian beri dukungan kepada mayarakat dengan memasukan pembukaan sawah di Pulau Banyak Barat ke program optimasi lahan yang dibiayai dana Otsus.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Longsor Makin Mengancam Desa Lae Gambir

Sat, Feb 12th 2011, 09:09

SINGKIL - Longsor yang mengancam Desa Lae Gambir, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, terus meluas. Belum ada upaya yang dilakukan pihak terkait, pada hal longsor sudah terjadi hampir setahun dan terus bertambah lebar ketika hujan turun. Luas longsor yang sebelumnya sekitar 100 meter dengan kedalaman 50 meter lebih, kini telah bertambah luas. Baru-baru ini tebing yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah penduduk desa terpencil itu, kembali longsor selebar lima meter. “Kami makin takut saja tinggal di sini, mau pindah tak punya biaya, longsorpun tak juga diperbaiki,” kata Yaho Manik (55) warga Lae Gambir, pada Serambi Jumat (11/2) yang rumahnya hanya berjarak 10 meter dari lokasi longsor.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, desa berpenduduk sekitar 150 jiwa itu, tepat berada di bibir jurang yang telah longsor sepanjang 100 meter lebih dengan kedalaman sekitar 50 meter. Tiga keluarga telah mengungsi sementara dua lagi masih tetap bertahan kendati longsor terus bertambah. Longsor juga mengancam jalan desa, dan melemparkan tanaman milik warga ke dasar jurang. Keluarga yang telah pindah karena terancam longsor masing-masing, keluarga Bagian Manik, Boma Manik dan Darwin Manik. Sedangkan dua keluarga lainnya yang masih bertahan sekitar 10 meter dari bibir jurang yaitu keluarga Jamal Bancin dan Yaho Manik. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menanggulangi longsor. Jangan sampai sempat memakan korban mengingat seteiap hujan turun longsor terus bertambah luas.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 21 Maret 2011

Banjir Singkil Meluas

Sat, Feb 5th 2011, 11:41


Masjid Babul Jannah di Handel, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Jumat (4/2) terendam banjir. SERAMBI/DEDE ROSADI

SINGKIL - Banjir yang melanda wilayah Aceh Singkil, hingga Jumat kemarin dilaporkan meluas dan merendam ratusan rumah, areal persawahan, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Bahkan, ruas jalan di sepanjang aliran Sungai Cinendang, mulai dari Kecamatan Suro, Simpang Kanan, dan Gunung Meriah terendam. Genangan banjir terparah terjadi di Desa Handel dan Solok, Kecamatan Gunung Meriah. Ratusan rumah di kedua desa itu terendam hingga setinggi dada orang dewasa. Banjir disebabkan meluapnya sejumlah sungai besar pascahujan deras sejak dua hari lalu. Arus transportasi Gunung Meriah, Singkohor, Kota Baharu dan sebaliknya sempat lumpuh. “Banjir mulai terjadi Kamis pagi dan semakin parah pada Jumat pagi ini,” kata Barat, seorang korban banjir di Desa Handel kepada Serambi, Jumat kemarin.

Banjir juga merendam puluhan hektare tanaman kelapa sawit masyarakat dan perkebunan di sepanjang alur sungai Lae Ijuk. Selain itu ratusan hektare sawah di Bulu Sema dan Lae Ijuk juga rusak parah. Sejak Kamis malam masyarakat mengevakuasi barang-barangnya ke lokasi aman. Bahkan, warga Handel, pada Jumat kemarin memasang tenda pengungsian di ujung jembatan desa itu. Hingga berita ini diturunkan tadi malam belum ada laporan korban jiwa. Bupati Aceh Singkil, Makmursyah Putra memperkirakan kerugian akibat banjir kali ini mencapai Rp 1 miliar.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 17 Maret 2011

Puluhan Rumah Terendam Banjir

Thu, Feb 3rd 2011, 18:09


PULUHAN rumah di Desa Bulu Sema, Kecamatan Suro, Aceh Singkil, Kamis dinihari, direndam banjir, akibat meluapnya sungai Bulu Sema. Banjir juga merendam puluhan hektare sawah dan merusak lintas jalan Singkil-Subulussalam. DEDE ROSADI/SERAMBINEWS.COM

SINGKIL - Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Singkil sejak Rabu malam, menyebabkan puluhan rumah, sawah, dan jalan lintas Singkil-Subulussalam di Desa Bulu Sema, Kecamatan Suro, terendam banjir.

Banjir yang disebabkan meluapnya sungai Bulu Sema, mulai merendam rumah mulai Kamis (3/2/2011) dinihari dengan ketinggian mencapai 2 meter.

Data sementara kerusakan banjir antara lain, sebuah rumah hanyut, 19 rusak parah, 40 rusak ringan, dan jalan sepanjang 200 meter rusak parah. Kemudian 50 hektar lahan sawah dipastikan gagal panen.(dede rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 31 Januari 2011

Singkil Terendam

Tue, Jan 11th 2011, 10:49

SINGKIL - Hujan yang mengguyur wilayah Aceh Singkil, dua hari ini, menyebabkan sejumlah sungai meluap.
Perumahan penduduk di sekitar sungai Lae Ijuk, Gunung Lagan, Gunung Meriah misalnya, air merendam hingga ke teras rumah. Perkebunan sawit milik warga serta perusahan turut terendam dengan ketinggian diatas 30 cm.


Sampai Selasa (12/1) pagi beberapa pemukiman penduduk yang berada di kawasan daerah aliran sungai (DAS) terendam hingga satu kaki "Tadi malam air sampai ke lantai rumah," kata Yardi (42) warga setempat kepada Serambinews.com. Beberapa sungai besar, seperti Lae Cinendang dan Soraya yang bermuara ke laut Singkil, pasca-diguyur hujan,volumenya meningkat.(Dede Rosadi)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 28 Januari 2011

Tanggul Pengaman Banjir Sungai Rintis, Kian Kritis

Tue, Jan 11th 2011, 09:36


Dua warga melintas di tanggul sungai Rintis, di Siti Ambi, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil yang telah ambruk sejak tiga tahun lalu. Hingga kini belum ada upaya perbaikan dari pemerintah setempat. Foto direkam Senin (10/1). SERAMBI/DEDE ROSADI

SINGKIL - Sudah tiga tahun lebih tanggul pengaman banjir sungai Rintis, di Kampong Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil ambruk, namun hingga saat ini belum ada upaya perbaikan dari pihak terkait. Akibatnya kerusakan tanggul yang dibangun BRR Aceh-Nias dengan pagu anggaran sekitar tujuh Miliar itu, semakin parah dan mengancam pemukiman warga yang berada di bawah sungai tersebut.

Amatan Serambi, Senin (10/1) kerusakan tanggul terparah terjadi dalam dua titik, sekitar 30 meter. Pada hal sebelumnya yang rusak hanya satu titik saja sepanjang lebih kurang 10 meter.

Kemudian tanggul beton yang dijadikan sebagai pengaman ambruk ke sungai, begitu juga dengan timbunan tanah yang selama ini dijadikan sebagai jalan diantara beton tersebut nyaris putus.

Mansur (35) warga Siti Ambi yang rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari tanggul yang jebol, kemarin mengatakan, makin panjangnya tanggul yang rusak, menyebabkan warga di sepanjang sungai tersebut sangat khawatir, sebab bila dibiarkan dalam waktu tidak terlalu lama akan jebol semuannya.

“Kerusakannya makin parah saja, kami yang tinggal pinggir sungai kalau sudah hujan jadi was-was, jebol itu tanggul habislah kami,” kata Mansur, dibenarkan warga lainnya. Warga berharap Pemkab Aceh Singkil, segera memperbaiki tanggul tersebut, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.(c39)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 03 Januari 2011

Abrasi Pantai Gosong Semakin Parah

Mon, Dec 27th 2010, 12:00

SINGKIL – Abrasi yang mengikis kawasan Pantai Gosong Telaga, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil, kini semakin parah. Dari sekitar 10 Km panjang bibir pantai di kawasan itu, 500 meter diantaranya sudah habis tergerus ombak.

Abrasi tersebut mengancam pemukiman penduduk Gosong Telaga Barat, Timur dan Gosong Telaga Selatan, Ketapang Indah, serta Pancang Dua, yang di beberapa titik sudah semakin dekat dengan bibir pantai. Di Gosong Telaga, kondisisnya sangat mengkhawatirkan, pasalnya abrasi terus mengikis hamparan pasir pemisah antara laut dengan sungai Suak Bahagia, yang membelah perkampungan tersebut.

“Yang kita khawatirkan kalau sempat sungai menyatu dengan laut, bisa habis kampung kami,” kata M Ishak (28), warga Gosong Telaga, Minggu (26/12) kemarin.

Ditambahkannya, abrasi diduga terjadi karena ulah penebangan pohon di kawasan hutan Anak Laut yang selama ini menjadi penyangga ombak besar menerjang langsung bibir pantai Gosong. Penyebab lain, belum semua bibir pantai ditanami pohon penyangga ombak, serta tanggul penahan abrasi.

Warga juga melaporkan, kawasan di sekitar Jetty Anak Laut Singkil, makin parah terkikis abrasi. Salah satunya jalan sepanjang 200 meter dengan lebar sekitar 15 meter yang biasa dipergunakan warga setempat kini telah habis termakan abrasi.

Warga berharap Pemkab Aceh Singkil, melakukan penghijauan di sekitar bibir pantai tersebut, guna mencegah makin meluasnya abrasi pantai. Selain reboisasi, pembuatan tanggul pengaman pantai juga diperlukan di beberapa titik yang cukup rawan.(c39)

Sumber : Serambinews.com